BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Rabu, 19 Oktober 2011

ring for weding. . .



Memilih Cincin Pernikahan dan Tunangan


Memilih Cincin Pernikahan dan Tunangan
Tradisi cincin kawin sudah berlangsung ribuan tahun lampau. Memang tak ada data pasti kapan cincin mulai digunakan untuk perkawina. Tapi sejumlah literature menyebutkan pada jaman romawi kuno banyak pasangan menggunakan lempeng besi sederhana sebagai tanda ikatan.
Cincin adalah symbol ikatan cinta sepanjang masa dan berlaku universal. Ia menjadi penanda awal sebuah hubungan dan menjelaskan status pemakainya. Cincin dijari manis kiri seolah bicara : hey leave alone, I’m with somebody. Mereka percaya lingkaran cincin sebagai symbol cinta abadi.
Berabad-abad kemudian tradisi ini diadopsi dunia barat. Cincin dianggap sebagai symbol cinta dan kepercayaan yang menandai hubungan pria dan wanita. Kadang diberikan sebelum perkawinan, dikenal dengan engangement ring atau cincin pertunangan, bisa juga saat upacara perkawinan dikenal dengan wedding ring atau cincin kawin.
Symbol Dalam cincin
Dalam perkembangannya bentuk dan desain cincin – cincin berevolusi. Pada jaman romawi kuno, misalnya ada yang dikenal sebagai cincin model kunci terbuat dari kuningan, perunggu, atau besi. Cincin ini sebagai symbol untuk masuk kerumah suami dan boleh menggunakan harta miliknya. Cincin kunci model tertentu digunakan untuk membuka kotak perhiasan.
Cincin berlian mulai marak dipakai dalam pertunangan mulai abad ke 18 di eropa, ada beberapa alasan yang membuat berlian menjadi begitu popular, yaitu kecantikan yang dipancarkannya, kekuatannya dan banyak ditemukan tambang berlian di Brasil.
Kaum wanita bangsawan biasanya menggunakan berlian besar untuk anting, tiara, kalung, dan gelang. Tapi untuk cincin mereka memakai berlian kecil atau halus yang diikat silver pada cincinnya yang terbuat dari emas adalah Queen Charlotte, istri dari king George III dari inggris yang disebut pertama kali memilih cincin bertabur berlian untuk perkawinannya. Sang ratupun dikenal sebagai Queen of Diamond.
Memilih Cincin Pernikahan dan Tunangan
Memilih cincin Pada masa kini, beragam cincin kawin tersedia dalam berbagai model dan bahan yang sangat variatif. Tapi cincin kawin paling umum digunakan adalah menggunakan bahan dasar emas atau platinum. Emas ini muncul dalam beragam warna seperti kuning, merah muda atau putih seperti platinum. Kadar karat yang umum dipakai adalah emas 18 karat. Emas murni 24 karat kurang cocok dijadikan cincin kawin karena sifat logamnya lunak sehingga mudah berubah akibat pemakaian sehari-hari.
Pilihan lainnya adalah platinum berwarna kemilau putih keperakan bergaya klasik. Seperti halnya emas, nilai cincin ini ditentukan kadar campuran logam lainnya seperti iridium dan ruthenium. Untuk harga cincin berbahan dasar platinum relative lebih mahal ketimbang emas.
Desain cincin kawin umumnya simple. Banyak pasangan memilih desain polos karena praktis untuk pamakaian sehari-hari.kalaupun ingin lebih special, pilihanya adalah dengan memberi sentuhan permata pada cincin emas atau platinum. Berlian masih menjadi pilihan paling popular sampai saat ini.
Dalam memilih cincin kawin yang cocok ada beberapa hal yang bisa dijadikan panduan.
Budget berapa anggaranya?
Harga cincin kawin biasanya ditentukan oleh jenis bahan, kadar karat dan beratnya. Serta tambahan hiasan sepert berlian. Untuk cincin kawin berlian bersertifikat, misalnya harganya pasti lebih mahal ketimbang cincin biasa. Bila anggaran terbatas bisa disiasati dengan mengutak –atik berat,kadar, serta model yang sederhana. Untuk harga logam mulia patokanya umumnya sama. Anda bisa berhemat dengan mencari ongkos pembuatan yang lebih murah.
Model
Cantik tidaknya cincin biasanya menjadi pertimbangan pertama dalam memilih. Anda bisa memilih langsung ditoko cincin atau mencari referensi model dan minta dibuatkan khusus. Dalam memilih model anda perlu ingat,berbeda dengan cincin lainnya, cincin kawin akan dipakai selamanya(idealnya). Jadi pertimbangkan juga bentuknya, apa tidak mengganggu aktivitas, apakah desainnya akan bertahan lama dan tidak cepat basi. Jangan lupa pertimbangkan berdua agar cincin terlihat cantik ditangan anda. Pilihlah tulisan apa yang akan diengrave dibagian dalam cincin pernikahan. Biasanya tanggal pernikahan atau nama pasangannya. Pilihlah cincin pernikahan yang disukai kedua pasangan dan pilihlah design yang bertahan seterusnya. Anda bisa membawa contoh gaun yang akan anda kenakan  dihari pernikahan anda untuk menyesuaikan dengan bentuk atau model cincin dan aksesoris.
Bahan
Ini tidak hanya berhubungan dengan budget atau selera, dalam menentukan pilihan bahan, perlu juga dipertimbangkan aspek kesehatan. Apa anda alergi terhadap bahan – bahan tertentu. Pada sejumlah kasus,keringat seseorang bereaksi secara berbeda terhadap bahan tertentu. Ketika membeli cincin berlian jangan lupa memperhatikan 4C (Carat/karat, Clarity/Kejernihan, Cut/Potongan dan Colour/Warna).
Ukuran
Jangan membeli cincin tanpa mencobanya. Cincin harus terasa nyaman dan melekat dengan pas dijari, jangan sampai kesempitan, kedodoran, atau warnanya tidak match dengan warna kulit anda.Tradisi jari manis kiri Jari manis tangan kiri adalah tempat yang biasa dipakai untuk cincin kawin. Tak ada aturan baku mengenai hal ini tapi tradisi ini begitu popular dan berlaku secara universal konon tradisi ini berasal dari kepercayaan romawi kuno yang menyebut bahwa pada jari manis kiri terdapat vena amoris yang berhubungan langsung kejantung. Alasan praktis yang juga sering dikemukakan, jari manis tangan kiri dianggap sebagai paling sedikit digunakan sehingga cincin relatif aman dipakai.
Jangan lupa untuk membawa sarung tangan yang akan anda kenakan di hari pernikahan jika anda akan memakai sarung tangan ketika mencoba cincin pernikahan untuk menghindari  kesalahan ukuran.

jakett bagusss....



go.go.go...



fashion shoes. . .




Kamis, 13 Oktober 2011

profilll idola ku cah,,,???!!!




Nama Artis : Kim Bum
Nama Asli : Kim Sang Bum
Pekerjaan : Aktor
Tanggal Lahir : 07 Juli 1989
Tinggi Badan : 181 cm
Berat Badan : 63 kg
Zodiak : Cancer

Hobi Sehari-hari : Nonton TV, rap, main playstation, jago maen bola dan kendo

Makanan Favorit: samkyeobsal (barbeque Korea)
Warna Favorit : Hitam
Angka Favorit : 7
Musisi Favorit : T (Yoon Mi Rae)
Aktor/Aktris Favorit : Hwang Jung Minso yi jung
Agensi : EYAGI Entertainment
Pendidikan
Kyun Bok High School
Jungang University (Movie and Theater Department)

Sinetron yg pernah dibintangi oleh Kim Bum

Dream (SBS) (SBS, 2009)
Boys Before Flowers (KBS2, 2008) (played the role of So Yi-jung)
I Like it Hot (2008)
East of Eden (MBC, 2008)
Unstoppable High Kick (MBC, 2006)
Outrageous Women (MBC, 2006) (informasicom.com)

hampir lupa kabarnya 
Kim Bum bermain di Film terbaru yang berjudul Bisang(keren bro)

kimbum manis nya...???!!! :P :P

Rabu, 12 Oktober 2011

Sejarah Berdirinya Kota Solo

SURAKARTA HADININGRAT

SEJARAH BERDIRINYA KOTA SALA

Siapapun mengetahui bahwa hidup dalam penjajahan itu selain terhina, tidak memiliki kebebasan juga sengsara. Kiranya demikianlah yang dialami oleh Raja Keraton Kasunanan di Kartasura, Sri Susuhunan Paku Buwana II. Sang Raja tidak memiliki kebebasan sama sekali. Sampai-sampai untuk memilih calon putra mahkota raja harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pemerintah penjajah, VOC Belanda. Pemerintah Belanda dan VOC Belanda dengan politik ‘pecah belah’ terhadap Karaton Mataram itu berhasil menguasai seluruh kekuasaan raja jajahannya.
Sementara intrik perebutan kekuasaan kerajaan melanda Karaton Kasunanan di Kartasura, yang dilakukan dari dalam keluarga keraton keturunan Mataram, telah menimbulkan kemelut berkepanjangan dan bermusuhan. Di sisi lain pelarian orang-orang orang-orang Cina yang tertindas oleh kompeni VOC Belanda di Jakarta, mereka melarikan diri ke Jawa Tengah. Kemarahan orang-orang Cina tertindas itu ditumpahkannya dalam bentuk pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning alias Mas Garendi di tahun 1742 itu juga memperoleh dukungan dari Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said yang memanfaatkan momentum itu. Raden Mas Said sangat marah dan kecewa terhadap kebijaksanaan Karaton Kartasura yang memangkas daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh Karaton Kartasura kepada Ayahandanya.
Serangan gencar prajurit pemberontakan Cina berhasil menjebol benteng pertahanan Keraton Kartasura dengan menimbulkan banyak korban jiwa. Menghadapi ancaman itu Paku Buwana II memerintahkan kerabat keraton dan para abdi dalem untuk segera mengungsi ke ke wilayah jawa Timur bagian barat daya, yaitu pacitan hingga ke Ponorogo. Sementara itu prajurit pemberontakan Cina menghancurkan keraton Kartasura dan menjarah kekayaan karaton yang tertinggal.
Pemimpin Prajurit Kompeni VOC Belanda, Mayor Baron Van Hohendorff segera minta bantuan minta bantuan prajurit Kompeni Belanda di Surabaya. Sementara itu adipati Bagus Suroto dari kadipaten Ponorogo yang merasa benci terhadap pemberontakan orang-orang Cina terhadap Keraton Kartasura, lalu menyediakan prajuritnya untuk segera menumpas prajurit pemberontak orang-orang Cina itu.
Peperangan menumpas pemberontakan orang-orang Cina pimpinan Mas Garendi atau Sunan Kuning berlangsung dengan seru. Akhirnya pemberontakan orang-orang Cina berhasil ditumpas. Setelah tertumpasnya pemberontakan orang-orang Cina maka Pangeran Sambernyawa alis Raden Said berjuang sendiri melawan Kompeni Belanda dan Karaton Kartasura.
Ketika kerabat Keraton Kartasura kembali ke keratonnya, keraton sudah hancur. Maka Sri Susuhunan Paku Buwana II memerintahkan para abdi dalemnya untuk membangun karaton yang baru. Untuk itu Paku Buwana II mengutus petinggi keraton yang terdiri dari Tumenggung Tirtowiguna, Pangeran Wijil, Tumenggug Honggowongsono dan abdi dalem lainnya untuk mencari tempat baru untuk lokasi pembangunan Keraton Kasunanan itu. Mereka memanjatkan doa kepada ALLAH SWT untuk memohon petunjukNya.
Rombongan utusan keraton disertai oleh seekor gajah putih berjalan ke timur. Suatu kali mereka mencium bau wangi di tanah Kadipolo. DesaTalang Wangi itu sebenarnya cocok untuk lokasi pembangunan baru, tetapi tanahnya banyak bukitnya. Lalu rombongan menuju kearah timur lagi. Mereka menyebrabgi  sungan Begawan Sala. Mereka tiba di Sonosewu. Tanahnya datar dan dapat menggunakan sungan Begawan Sala sebagai lau lintas. Namun secara spiritual Desa Sonosewu banyak dihuni setan prayangan sehingga tidak baik untuk keraton baru.
Rombongan menuju arah barat, tiba-tiba gajah putih milik keraton berhanti istirahat di dekat daerah berawa. Para petinggi dan abdi dalem keraton kembali memanjatkan doa kepada Allah. Dikeheningan malam mereka mendengar ‘suara tanpa rupa’: “Hai...Engkau yang sedang bertirakat. Kalau Engkau menginginkan sebuah tempat untuk ibukota kerajaan, pergilah ke Desa Sala. Sebab itu dikehendaki Allah dan nantinya akan menjadi kota yang besar dan makmur,........”
Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil kemudian menemui Kepala desa Dusun, bernama Kyai Sala. Saat pertemuan itu Kyai Sala bercerita , kalau ia mimpi ada utusan keraton yang mencari tempat untuk membangun keraton. Ia juga menerima wisik bahwa dusun itu baik, untuk tempat pembangunan keraton. Herannya kok ada persamaan mimpi, maka Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil segera melaporkan penemua desa Sala untuk lokasi pembangunan Keraton pindahan dari Kartasura, dan sang raja menyetujuinya.
Sri susuhunan Paku Buwana II merasa sudah cocok apabila desa Sala yang penuh dengan rawa itu untuk ibukota keraton maka disuruhnya para bupati pesisir agar menimbuni rawa itu dengan tanaman lumbu, dengan maksud untuk menyumbat sumber air besar yang terus mengalir. Kepala dusun Kyai Sala menyampaikan usul agar dapat menyumbat sumber air besar didaerah rawa, dengan gong sekar delima. Ketika sang raja dilapori tentang wisik gaib dari Kyai Sala yang bunyinya “untuk menghentikan mengalirnya sumber air, engkau harus menutupnya dengan gong merah delima dan kepala penari serta daum lumbu. Maka oleh Sri Sunan diartikan bahwa gong itu suara paling seru dalam karawitan, maknanya adalah Kyai Sala sikepala dusun yang menghendaki sadangkan kepala penari terkait dengan wayang atau ringgit (bahasa jawa) yang berarti uang. Jelaslah sudah bahwa Kyai Sala menghendaki uang atas tanah halk miliknya, yang akan digunakan untuk karaton. Maka Sri Sunan Paku Buwana II memberinya uang sebanyak 10.000 gulden Belanda (1744) untuk tanah milik Kyai Sala yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan karaton baru itu.
Pindahnya Karaton Kasunanan warisan Mataram dari Kartasura ke desa Sala itu merupakan bedol keraton secara total atau menyeluruh, Perpindahan itu dilaksanakan dalam suasana sedih karena keraton Kartasura dirusak oleh pemerintah Cina. Untuk pindahnya karaton itu terlebih dahulu para abdi dalem karaton kasunanan harus membabat hutan belukar , menimbuni rawa digedung lumbu dengan tanah galian dari Tanah Wangi di Kadipolo. Lubang tanah bekas galian itu membentik danau kecil yang setelah ratusan tahun dijadikan Balai Kambang Sriwedari. Seluruh bangunan inti karaton kasunanan kartasura diboyong pindah untuk didirikan kembali di desa Sala.Pada waktu itu pagar kompleks karaton dibuat dari bambu, secara bertahap bagian-bagian karaton lainnya seperti Masjid Agung di alun-alun utara pun dibangun oleh generasi Pemerintahan Paku Buwono selanjutnnya, karena keberadaan bangunan tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan Karaton Surakarta
MASA REVOLOSI /SERANGAN 4 HARI KOTA SALA
Para pejuang kemerdekaan Kota Solo dengan keberanian luar biasa, dapat mengakhiri kekuasaan Pemerintah Militer Jepang yang keji dan kejam tak berperikemanusiaan terhadap rakyat dan pejuang Indonesia, meskipun persenjataan sangat terbatas dan sederhana. Puncaknya dengan penaklukan terhadap pasukan militer Jepang di timuran ( sekarang Hotel Cakra di jl. Birg Jend Slamet Riyadi ). Hal tersebut karena keterpaduan perjuangan antara Tentara Nasional Indonesia, Tentara Pelajar, bersama rakyat. Bukan hanya perjuangan bersenjata, tetapi diperlukan perjuangan diplomasi seperti dilakukan oleh tokoh pejuang Soemodiningrat yang kebetulan salah satu bangsawan dari Keraton Kasunanan Surakarta. Ketika menaklukan Pimpinan Militer Jepang Watanabe dalam perundingan di Balai Kota Sala. Namun setelah terusirnya kekuasaan Pemerintah Fasis Jepang dari bumi Republik Indonesia ternyata pasukan Belanda datang dengan menunggangi Sekutu / PBB ke Indonesia. Belanda berusaha untuk mencengkeramkan kembali kekuasaannya di bumi nusantara, dan para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan perlawanan bersenjata dengan penuh keberanian untuk mengusir Tentara dan Pemerintahan Penjajahan Belanda.
Katika Pasukan Belanda menyerbu Ibukota Republik Indonesia yang dipindahkan sementara di Yogyakarta pada tanggal, 19 Desember 1948, kemudian pasukan Belanda pun menyerbu kota Sala dua hari kemudian. Maka rakyat bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia melakukan perlawanan bersenjata untuk mengusir kekuasaan penjajah Belanda. Dalam kemelut perang kemerdekaan untuk menghindari pasukan militer Belanda menguasai tempat-tempat penting,maka para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan politik bumi hangus termasuk gedung balai kota Sala yang merupakan pusat pemerintahan juga dibakar. Sementara itu rakyat dan para pejuang kemerdekaan republik Indonesia di kota Sala mengungsi keluar kota, perjuangan itu dilakukan dengan begerilya.
Ada peristiwa penting yang patut dicatat ialah saat terhadap pasukan militer jepang yang bertahan disebelah barat gedung koperasi Batari ( oktober 1945 ). Saat itu gugur pejuang Indonesia yang bernama afirin yang ditembak oleh serdadu Jepang yang sedang terkepung. Jenazah Arifin dalam peti yang diselimuti kain merah putih, lebih dulu diusung ramai-ramai di keraton Surkarta. Dalam hal ini Karaton menyediakan kereta berkuda untuk mengangkut jenazah Arifin ke pemakaman di Sekar Pace ( makam pahlawan kusuma bakti ) – Jurug.
Atas perintah panglima Jendral Sudirman maka komandan brigade V divisi II Letkol Slamet Riyadi mengkonsolidasi dengan membentuk komando pertahanan atau Wehrekreise wilayah Solo, lalu dibentuk komando pertempuran Panembahan Senapati yang meliputi daerah karisidenan Sala, Semarang Selatan dan Pacitan. Untuk daerah Solo diberi nama Wehrekreise Arjuna dipimpin oleh Ahmadi, yang terdiri dari lima rayon masing-masing dipimpin oleh Kapten Suhendra, Lettu Sumarto, Kapten Prakoso,( pernah menjadi rektor UNS ) Kapten Abdul Latief, yang ilegal dipimpin oleh Lettu Hartono dengan melakukan gerilya terhadap Belanda.
Di bidang pemerintahan sipil juga dibentuk pemerintahan kota solo yang wali kotannya RM. Suharyo Suryopranoto, hasil persetujuan Room Royen direalisasikan dalam Pemerintahan Penghentian Tembak Menembak oleh Presiden Soekarno tanggal ,3 Agustus 1949, dan ditindak lanjuti oleh Jendral Sudirman dan komando dibawahnya.
Serta Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia AHJ. Lovink ( 11 Agustu 1949 ) dari pengalaman sejarah membuktikan pemerintah Belanda sering ingkar janji, tipu muslihat sehingga para pejuang selalu waspada serta melakukan perluasan daerah kekuasaan di Solo dengan melakukan serangan 4 hari, pada tanggal. 7 – 10 agustus 1949 pada saatitu Belanda bermarkas di Benteng, mendapat bantuan dari batalyon Yogyakarta untuk menyerbu ke Solo, dan memaksa agar Slamet Riyadi menyerah. Dalam pertempuran ini Belanda mengerahkan pesawat tempur dengan menyerang pasar nongko, kampung petangpuluhan, srambatan, pasar kembang yang dianggap kantong pejuang.
150 serdadu Belanda tewas tertembak, sebuah tank milik Belanda berhasil direbut di kampung Purwo Diningratan. Setelah kewalahan menghadapi pejuang, Belanda menyetujui Gencatan Senjata, tanggal 11 Agustu 1949 pukul 00.00. walaupun gencatan senjata ditanda tangani serdadu Belanda ( KNIL ) malah membabi buta menumpahkan kemarahannya dengan menembaki penduduk sipil di Pasar Kembang dengan menewaskan 23 orang, dimana 13 onggota PMI Surakarta dibantai di markas PMI Padmo Negaran Gading serta 9 orang sipil juga tertembak, sedangkan Belanda sebanyak 7 orang serdadunya juga tewas.
Selagi perjuangan Indonesia lagi memuncak, September 1948 Partai Komunis ( PKI ) di bawah Muso cs dari Madiun melakukan pemberontakan di dalam, namun pemerintah Indonesia pada waktu itu berhasil menumpasnya dengan korban Kolonel Sutarto yang tertembak di sebuah gang Kampung Timuran, pada saat itu kota Solo sedang menyelenggarakan PON I bulan September 1948 yang dibuka oleh presiden Soekarno di stadion Sriwedari.
Untuk memperingati pejuang kemerdekaan 4 hari di kota Solo, telah dibangun monumen berupa tugu dihalaman Makorem 74 / Wirastratama Surakarta dan monumen perjuangan 45 di Banjasari. Wong Solo berhutang budi pada pejuang-pejuang tersebut “ InaliLlahi waina Illahi rojiun.......

Beli-Beli Sepatu.....





Kamis, 06 Oktober 2011

news style of bag....

bisa sekolah bisa maen...

tas sekolah new


new style

Rabu, 05 Oktober 2011

Candi Borobudur

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin.

Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. [1] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.[2]

[sunting] Struktur Borobudur


Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut

Denah Borobudur membentuk Mandala, lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha.
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.
Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

[sunting] Relief


Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara
Stupa Borobudur.jpg
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.
Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli - ----- Karmawibhangga 160 pigura
Tingkat I - dinding a. Lalitawistara 120 pigura
------- - ----- b. jataka/awadana 120 pigura
------- - langkan a. jataka/awadana 372 pigura
------- - ----- b. jataka/awadana 128 pigura
Tingkat II - dinding Gandawyuha 128 pigura
-------- - langkan jataka/awadana 100 pigura
Tingkat III - dinding Gandawyuha 88 pigura
-------- - langkan Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV - dinding Gandawyuha 84 pigura
-------- - langkan Gandawyuha 72 pigura
-------- Jumlah -------- 1460 pigura
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

[sunting] Arca Buddha


Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang
Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu.
Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.[3] Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.[3] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).[4]
Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.[5]
Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:
Arca↓ Mudra↓ Melambangkan↓ Dhyani Buddha↓ Arah Mata Angin↓ Lokasi Arca↓
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 10016277.jpg Bhumisparsa mudra Memanggil bumi sebagai saksi Aksobhya Timur Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi timur
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60013976.jpg Wara mudra Kedermawanan Ratnasambhawa Selatan Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi selatan
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amitabha TMnr 10016276.jpg Dhyana mudra Semadi atau meditasi Amitabha Barat Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi barat
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amogasiddha TMnr 10016274.jpg Abhaya mudra Ketidakgentaran Amoghasiddhi Utara Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi utara
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Vairocana TMnr 10015947.jpg Witarka mudra Akal budi Wairocana Tengah Relung di pagar langkan baris kelima (teratas) Rupadhatu semua sisi
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60019836.jpg Dharmachakra mudra Pemutaran roda dharma Wairocana Tengah Di dalam 72 stupa di 3 teras melingkar Arupadhatu

[sunting] Tahapan pembangunan Borobudur

  • Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
  • Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
  • Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
  • Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

[sunting] Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur


Foto pertama Borobudur dari tahun 1873. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.

Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra (payung) susun tiga.
  • 1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 - monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 - pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1963 - Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 - Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 - Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.

Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO